Banyak yang mendukungku untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini, dari memberikan uang agar semangat, ada yang mengajak jalan-jalan, hingga yang memberikan wejangan dan melakukan ritual-ritual aneh agar aku bersemangat.
Semua itu tidak berpengaruh, uang bukan segalanya, jalan-jalan tidak menyelesaikan apapun, wejangan kalau hanya untuk menyudutkan itu tidak akan berhasil, ritual tidak akan meningkatkan semangat seperti robot diberikan baterai baru.
Ayahku mungkin yang sedang sangat kecewa dalam keadaan ini, tapi ayahku tidak pernah sadar kenapa aku bisa begini. Bagi ayahku dengan memberikan uang dan membelikan baju dan alat-alat yang menurut ayahku baik untukku bisa membuat aku selesai menyelesaikan Tugas Akhir. Tapi kenyataanya uang tidak bisa membuatku lebih terpacu, aku bukan mata duitan, tetapi aku juga butuh uang tapi bukan untuk memuaskan nafsu keduniawianku.
Ibuku mungkin yang sangat khawatir dalam hal ini. Ibuku terlalu sayang padaku dan karena sayangnya ingin sekali aku tidak pergi jauh darinya. Hal inilah yang membuatku jadi stress, kebebasanku direnggut oleh ibuku sendiri, uang dan fasilitas dijadikan pancing untukku agar diam terus dirumah. Kebebasanlah yang aku inginkan, aku tahu artinya tanggung jawab dan aku sangat mengerti bahwa kebebasan tidak bisa sebebas-bebasnya. Ibuku kurang fleksibel dalam segala hal, hal yang aku sukai tidak pernah didukung ibuku 100%, malah hal yang menurut ibuku bagus untukku dipaksakan padaku, ibu tidak tahu aku suka atau tidak.
Adik-adikku sangat tidak peduli atau mungkin peduli tentangku, mereka menganggap barang milikku adalah milik mereka juga. Internet unlimited yang aku usahakan sedari lama kini mereka merasa memilikinya, padahal sebelumny mereka tidak ada dukungan sama sekali dan bahkan merasa itu tidak penting dan menghasut ayah dan ibuku agar tidak merealisasikannya. Andai adiku tahu susahnya jadi seorang kakak, dan cucu laki-laki tertua di keluarga mereka mungkin akan tahu yang kuhadapi sekarang ini.
Teman-temanku, yang sebagian besar sangat tidak pedulian kadang-kadang datang dan mengajak jalan-jalan tanpa tahu aku sangat kesusahan. Kalau aku menolak mereka akan mengatakan aku kurang setia kawan, katrok, kurang pergaulan, culun dan sebagainya yang sangat menyakitkan hati ini dan memekakan telinga ini mendengarnya. Hanya segelintir teman yang aku anggap sahabat yang bisa mengerti kesusahanku.
Ini belum selesai, masih ada uneg-uneg dan pikiranku yang kalut yang ingin aku share disni agar dibaca oleh semua orang dan semua orang tahu bahwa ada seorang yang hidup dalam kekalutan dan kegelapan seperti aku.
Semua itu tidak berpengaruh, uang bukan segalanya, jalan-jalan tidak menyelesaikan apapun, wejangan kalau hanya untuk menyudutkan itu tidak akan berhasil, ritual tidak akan meningkatkan semangat seperti robot diberikan baterai baru.
Ayahku mungkin yang sedang sangat kecewa dalam keadaan ini, tapi ayahku tidak pernah sadar kenapa aku bisa begini. Bagi ayahku dengan memberikan uang dan membelikan baju dan alat-alat yang menurut ayahku baik untukku bisa membuat aku selesai menyelesaikan Tugas Akhir. Tapi kenyataanya uang tidak bisa membuatku lebih terpacu, aku bukan mata duitan, tetapi aku juga butuh uang tapi bukan untuk memuaskan nafsu keduniawianku.
Ibuku mungkin yang sangat khawatir dalam hal ini. Ibuku terlalu sayang padaku dan karena sayangnya ingin sekali aku tidak pergi jauh darinya. Hal inilah yang membuatku jadi stress, kebebasanku direnggut oleh ibuku sendiri, uang dan fasilitas dijadikan pancing untukku agar diam terus dirumah. Kebebasanlah yang aku inginkan, aku tahu artinya tanggung jawab dan aku sangat mengerti bahwa kebebasan tidak bisa sebebas-bebasnya. Ibuku kurang fleksibel dalam segala hal, hal yang aku sukai tidak pernah didukung ibuku 100%, malah hal yang menurut ibuku bagus untukku dipaksakan padaku, ibu tidak tahu aku suka atau tidak.
Adik-adikku sangat tidak peduli atau mungkin peduli tentangku, mereka menganggap barang milikku adalah milik mereka juga. Internet unlimited yang aku usahakan sedari lama kini mereka merasa memilikinya, padahal sebelumny mereka tidak ada dukungan sama sekali dan bahkan merasa itu tidak penting dan menghasut ayah dan ibuku agar tidak merealisasikannya. Andai adiku tahu susahnya jadi seorang kakak, dan cucu laki-laki tertua di keluarga mereka mungkin akan tahu yang kuhadapi sekarang ini.
Teman-temanku, yang sebagian besar sangat tidak pedulian kadang-kadang datang dan mengajak jalan-jalan tanpa tahu aku sangat kesusahan. Kalau aku menolak mereka akan mengatakan aku kurang setia kawan, katrok, kurang pergaulan, culun dan sebagainya yang sangat menyakitkan hati ini dan memekakan telinga ini mendengarnya. Hanya segelintir teman yang aku anggap sahabat yang bisa mengerti kesusahanku.
Ini belum selesai, masih ada uneg-uneg dan pikiranku yang kalut yang ingin aku share disni agar dibaca oleh semua orang dan semua orang tahu bahwa ada seorang yang hidup dalam kekalutan dan kegelapan seperti aku.
cuma bisa bilang,, elu punya orang-orang yang menyayangi elu dengan cara mereka sendiri,, tapi bersyukurlah karena mereka masih sayang elu,, eniwei,, selamat berjuang yah.. :)
ReplyDelete:) thanks ran
ReplyDeleteby the way..g nyangka tulisan gw dibaca olehmu xD
buset dah blog gw mirip diary bener xD